RSS

Presiden Soekarno Terima Bendera Pusaka

19 Jun

Presiden Soekarno Terima Bendera Pusaka [sumber: arsip nasional]
klik gambar untuk memperbesar

Alwi Shahab
Wartawan Republika

Presiden Soekarno, didampingi dua putrinya Rachmawati (kiri) dan Sukmawati (kanan), tengah membuka peti Bendera Pusaka dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-16 Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, 17 Agustus 1961. Bendera Pusaka itu diserahkan oleh seorang Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera). Bendera Pusaka dikibarkan terakhir kali pada tanggal 17 Agustus 1968. 
Pada ulang tahun kemerdekaan RI selanjutnya, agar tidak rusak, bendera pusaka tidak dikibarkan, tapi hanya disertakan. Yang dikibarkan hanya duplikatnya, yang dibuat dari sutera alam Indonesia. Bagian berwarna merah dan putih bendera ini tidak disambung dengan jahitan, tapi merupakan satu kesatuan.

Bendera Pusaka dipakai untuk menyebut bendera yang dikibarkan pertama kali pada saat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Bendera yang berukuran 178 x 274 sentimeter ini dijahit oleh Ibu Fatmawati, istri Bung Karno, sekitar pertengahan Oktober 1944 di gedung Jalan Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi 56). Bendera selesai dijahit dalam dua hari.

Sebelum kemerdekaan, bendera merah putih sebetulnya sudah digunakan, misalnya dalam Kongres Pemuda 1928. Tetapi, ketika itu bendera merah putih belum diakui dunia internasional karena RI belum dianggap ada. Amanat Presiden Soekarno pada ulang tahun kemerdekaan RI 17 Agustus 1961 berjudul RE-SO-PIM (Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional).

Bung Karno dalam setiap pidato 17 Agustus di Istana dan dihadiri puluhan ribu rakyat di Lapangan Monas, selalu memberikan judul dalam pidatonya. Seperti pada 17 Agustus 1959, berjudul Manipol (Manifesto Politik). Karena sejak 5 Juli 1959, Indonesia kembali ke UUD 1945 dan meninggalkan sistem politik Demokrasi Liberal.

Pada 17 Agustus 1960, dinamakan Laksana Malaikat Menyerbu dari Langit, Jalannya Revolusi Kita (Pidato Jarek). Judul pidato 17 Agustus 1962 dinamakan Tahun Kemenangan. Menurut Bung Karno, revolusi Indonesia sekarang sudah naik kepada tingkat self propelling growth: Kita maju atas dasar kemajuan! Kita mekar atas dasar kemekaran!

Pada 17 Agustus berikutnya (1963), ia memberi judul GESURI (Genta Suara Revolusi) dan setahun kemudian (1964) berjudul Tahun Vivere Pericoloso (Nyerempet-nyerempet Bahaya). Dalam pidato ini, Bung Karno menyuruh rakyat Indonesia bersiap meningkatkan ‘Pengganyangan’ terhadap Malaysia dengan Dwi Komando Rakyat.

Dalam tahun 1965, ia memberi judul Capailah Bintang-bintang di Langit (Tahun Berdikari). Bung Karno mencanangkan Trisakti Tavip: Berdaulat dalam bidang politik. Berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan. 17 Agustus 1966 merupakan pidato terakhir Bung Karno pada upacara proklamasi kemerdekaan. Judulnya, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, yang dikenal dengan singkatan ‘Jas Merah’.***republika, infokito

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 19 Juni 2010 in Informasi Penting, Sejarah, Umum

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: