RSS

Kelemahan Akuntansi Modern

27 Mei

Akuntansi merupakan determinan dari sebuah ideologi yang mendominasi. Sebab sebagai sebuah informasi bisnis, akuntansi didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kepentingan pihak-pihak ”penguasa” dalam konteks dimana ideologi tersebut berada. Ketika akuntansi digunakan pada basis masyarakat sosialis maka akuntansi akan memperoleh implikasi nilai berupa kolektivisme, egalitarianisme serta kontra strata-hirarkis. Begitupun sebaliknya, akuntansi akan terkena dampak nilai-nilai individualistis, egosentris, dan logosentris manakala ia diterapkan dalam konteks masyarakat yang kapitalistik. Inilah yang menjadi karakter mendasar dari akuntansi. Bahwa ia sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat dimana ia berada. Walaupun pada saat yang sama akuntansi juga dapat merubah lingkungannya.

Saat ini kapitalisme merupakan ideologi mainstream yang mengendalikan segala lini kehidupan manusia modern. Dengan mengikuti alur logika diatas, kita dapat memastikan bahwa akuntansi yang digunakan dalam cakupan dunia bisnis saat ini merupakan produk dari ideologi kapitalisme yang rakus, tamak dan serakah. Pernyataan ini lebih mendapat justifikasi ketika kita melihat realitas informasi akuntansi yang hanya diperuntukan bagi pihak pemilik modal (Shareholders) an sich. Sedangkan pihak-pihak lain yang memiliki kontribusi terhadap kinerja perusahaan lantas dimarginalkan oleh ilmu akuntansi modern.

Arogansi akuntansi mainstream semakin menjadi tatkala hanya mengakui private cost and benefit sebagai beban (expense) dan pendapatan (revenue). Hal ini tentu berimplikasi pada hilangnya kepedulian perusahaan terhadap biaya eksternalitas yang ditimbulkan dari operasional sehari-harinya seperti, biaya kerusakan lingkungan akibat pembuangan limbah, polusi dan sebagainya.

Oleh sebagaian kalangan, teori-teori akuntansi mainstream selalu dianggap bebas nilai (value free). Hal ini sangat mengabaikan fakta dari sebuah konstruk bangunan keilmuan yang sebetulnya dihinggapi oleh nilai-nilai subjektifitas. Perspektif ini (Perspektif ilmu bebas nilai) timbul karena adanya suatu anggapan bahwa realitas objektif berada secara bebas dan terpisah di luar diri manusia. Akibatnya cara pandang seperti ini (baca: perspektif) menegasikan fakta tentang manusia aktif yang secara sosial mampu mengonstruksi realitas kehidupannya. Pandangan ini sering diistilahkan dengan physical realism.

Physical realism hanya cocok dipakai dalam konteks ilmu-ilmu eksak. Sebab dari sisi ontologi objek dari ilmu ini memang dapat diukur, dianalisis, dideskripsikan secara objektif oleh para ilmuan. Beda halnya dengan akuntansi, yang merupakan salah satu cabang dari ilmu sosial, yang membutuhkan pemahaman tentang sebuah fenomena sosial yang berada dibalik bangunan teoritisnya. Sebab seorang akuntan tidak akan pernah bisa meninggalkan nilai berupa sifat, pengalaman, nilai masyarakat dan lain sebagainya. Disamping itu, realitas yang diteliti adalah realitas yang tidak bebas nilai.Karena realitas tersebut dibangun melalui proses interaksi sosial. Dan yang paling tidak kalah pentingnya untuk dikemukakan bahwa metodologi yang digunakan dalam membangun teori akuntansi mainstream adalah metodologi yang syarat dengan nilai. Jadi baik subjek, objek maupun metodologi dalam ilmu akuntansi tidak pernah terbebas dari nilai-nilai.

Karena bersifat positivistik, ilmu akuntansi mainstream hanya berkutat pada pemberian informasi kuantitatif an sich. Pembatasan ini hanya akan memiskinkan kualitas informasi akuntansi. Sebab untuk memberi gambaran utuh tentang sebuah perusahaan maka diperlukan jenis informasi lain yang tidak mampu diberikan oleh informasi kuantitatif. Disinilah letak urgensi dari informasi kualitatif yang jika disinergikan akan menambah daya guna dari sebuah laporan keuangan.

Karena sifatnya yang sekuler, ilmu akuntansi mainstream sangat jauh dari kehangatan nilai-nilai religius. Akibatnya manusia menjadi teralienasi dengan jati diri dan penciptanya. Sebab kesadaran pengguna informasi akuntansi hanya terbatas pada aspek kesadaran materi yang bersifat fana’. Akuntansi mainstream hanya mengeksploitasi hasrat material manusia melalui orientasi perolehan keuntungan sebesar-besarnya. Inilah yang menjadi tabir penghijab terhubungnya kesadaran antara Tuhan dan manusia. Para manusia telah melupakan maksud dan tujuan penciptaannya di dunia. Alat telah dijadikan tujuan. Maka tak bedanya manusia saat ini dengan hewan yang hanya hidup untuk makan. Inilah wajah asli dari akuntansi modern, sebuah ilmu tanpa tuhan.

Duhai orang yang senang memeluk dunia fana,Yang tak kenal pagi dan sore dalam mencari dunia, Hendaklah engkau tinggalkan pelukan mesramu, kepada duniamu itu. Karena kelak engkau akan berpelukan, Dengan bidadari di surga. Apabila engkau harap menjadi penghuni surga abadi, maka hindarilah jalan menuju api neraka.

Oleh : Muhammad Rahmat

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 27 Mei 2011 in akuntansi, ekonomi

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: