RSS

Arah Kiblat..!

10 Jan

Informasi ini diperoleh dari website Kanwil Depag Propinsi Jambi.

Pendahuluan

Sebagaimana kita ketahui bahwa Ka’bah (Baitullah) merupakan Kiblat bagi umat Islam yang  letaknya jauh dari Indonesia yaitu di Masjidil Haram Mekkah Arab Saudi.

Sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, belum ada ketentuan Allah tentang kewajiban menghadap kiblat dalam mengerjakan shalat. Rasulullah sendiri, dalam melakukan shalat selalu menghadap ke Baitul Maqdis. Hal itu dilakukan berhubung kedudukan Baitul Maqdis saat itu masih dianggap yang paling istimewa dan Baitullah masih dikotori oleh beratus-ratus berhala yang mengelilinginya. sekalipun Rasulullah selalu menghadap ke Baitul Maqdis, jika berada di Mekkah beliau juga pada saat yang sama selalu menghadap ke Baitullah. Demikian pula setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau selalu menghadap ke Baitul Maqdis. 16 atau 17 bulan setelah hijrah, di mana kerinduan beliau telah memuncak untuk menghadap ke Baitullah yang sepenuhnya dikuasai oleh kafir Mekkah maka turunlah firman Allah memerintahkan berpaling ke Masjidil Haram yang memang sangat dinanti-nantikan oleh Rasulullah. Peristiwa tersebut diabadikan dalam al-Quràn surat al-Baqarah ayat 144:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَـنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ. وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ …{البقرة : 144}

Artinya : Sesungguhnya kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan mukamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya…. (QS. Al-Baqarah : 144)

Dasar Hukum Tentang Kiblat :

1. Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 142, 143, 144, 149 dan 150

Artinya : Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan (Al-Baqarah : 149)

Artinya:  “Dan darimana saja kamu keluar (datang) maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, dan dimana saja kamu semua berada maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang dzalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada Ku. Dan agar Ku sempurnakan ni’matKu atas kamu, dan supaya kamu mendapat petunjuk” (Al-Baqarah : 150)

2. Hadist Rasulullah SAW yang menerangkan tentang Kiblat :

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ يُصَلِّّى نَحْوَ الْبَيْتِ الْمُقَدَّسِ فَنَزَلَتْ “قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَـنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ” فَمَرَّ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلَمَةَ وَهُمْ رُكُوْعٌ فِى صَـلاَةِ الْفَجْرِ وَقَدْ صَلُّوْا رَكْعَةً فَـنَادَى اَلآ أَنَّ الْقِبْـلَةَ قَدْ حَوَّلَتْ فَمَالُوْا كَمَا هُمْ نَحْوَ الْقِبْـلَةِ

Artinya: “Bahwa Rasulullah SAW (pada suatu hari) sedang shalat dengan menghadap Baitul Maqdis, kemudian turunlah ayat “Sesungguhnya Aku melihat mukamu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami palingkan mukamu ke kiblat yang kamu kehendaki. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram”. Kemudian ada seseorang dari bani Salamah bepergian, menjumpai sekelompok shahabat sedang ruku’ pada shalat fajar. Lalu ia menyeru “Sesungguhnya kiblat telah berubah”. Lalu mereka berpaling seperti kelompok Nabi, yakni ke arah kiblat” (HR. Muslim dari Anas bin Malik)

َلْبَيْتَ قِبْلَةٌ ِلأَهْلِ الْمَسْجِدِ وَالْمَسْجِدُ قِبْلَةٌ ِلأَهْلِ الْحَرَمِ وَالْحَرَمُ قِبْلِةٌ ِلأَهْلِ اْلأَرْضِ فِى مَشَارِقِهَا وَمَغَارِبِهَا مِنْ أُمَّتىِ

“Baitullah adalah kiblat bagi orang-orang di masjidil haram. Masjidil haram adalah kiblat bagi orang-orang penduduk tanah haram (Makah). dan tanah haram adalah kiblat bagi semua umatku di bumi, baik di barat ataupun di timur (HR. al-Baihaqi dari Abu Hurairah)

أَنَّ النَِّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ لَمَّا دَخَلَ الْبَيْتَ دَعَا فِي نَوَاحِهِ وِلَمْ يُصَلِّ فِيْهِ حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا خَرَجَ رَكَعَ رَكْعَـتَيْنِ فِي قِبَلِ الْقِبْـلَةِ وَقَالَ هَذِهِ الْقِبْـلَةُ

“Bahwa sesungguhnya Nabi SAW ketika masuk ke Baitullah beliau berdo’a di sudut-sudutnya, dan tidak shalat di dalamnya sampai beliau keluar. Kemudian setelah keluar beliau shalat dua raka’at di depan ka’bah, lalu berkata “Inilah kiblat” (HR. Muslim dari Usamah bin Zaid)

Hukum Menghadap Kiblat

Dalam kajian Fiqh Menghadap Kiblat (Istiqbaalul Kiblah) mempunyai hukum yaitu:

a.   Hukum Wajib

  1. Ketika shalat fardhu ataupun shalat sunat menghadap kiblat merupakan syarat sahnya shalat
  2. Ketika melakukan tawaf di Baitullah.
  3. Ketika menguburkan jenazah maka harus diletakkan miring bahu kanan
  1. menyentuh liang lahat dan muka menghadap kiblat.

b.   Hukum Sunat

Bagi yang ingin membaca Al-Quran, berdoa, berzikir, tidur (bahu kanan dibawah) dan lain-lain yang berkaitan.

c.   Hukum Haram

Ketika membuang air besar atau kecil di tanah lapang tanpa ada dinding penghalang.

d.   Hukum Makruh

Membelakangi arah kiblat dalam setiap perbuatan seperti membuang air besar atau kecil dalam keadaan berdinding, tidur menelentang sedang kaki selunjur ke arah kiblat dan sebagainya.

Koordinat Lintang dan Bujur Kab/Kota dalam Provinsi Jambi

Sudah benarkah Arah Kiblat Kita…?


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: