RSS

Lapang Dada Dikritik

29 Jan

Amirul Mukminin Umar bin Khattab sedang berpidato tentang jihad. Tiba-tiba Salman Al Farisi menginterupsi, ‘Jangan didengar, jangan ditaati”.
Umar mencoba bersabar dan bertanya, ”Mengapa?”
”Karena engkau berbuat curang dan mencuri kain Yaman yang dibagikan kemarin masing-masing selembar per orang. Bagaimana engkau bisa menjahitnya menjadi baju dan sekarang memakainya.”

Umar kembali bersabar, dan bertanya kepada hadirin, ”Mana Abdullah?” Tak ada yang menyahut, termasuk putranya, Abdullah bin Umar, karena mungkin menyangka maksudnya adalah hamba Allah (abdullah). Untuk ketiga kalinya Umar bersabar dan bertanya lebih konkret, ”Mana Abdullah bin Umar?” Setelah anaknya menyahut, Umar memerintahkan menjelaskan asal muasal bajunya.

Penjelasannya memuaskan Salman dan hadirin. Mereka pun kembali bersedia mendengarkan dan menaati. Bayangkan, Umar tetap bersikap lapang dada, sabar dan ramah tamah, meski kritik itu salah. Inilah salah satu penyebab keberhasilan pemerintahannya. Beliau sukses memakmurkan masyarakat, menghindarkan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan kelaparan. Bahkan, menjauhkan mereka dari berbagai bencana, baik di dunia apalagi di akhirat. Umar pun jujur, adil, dan tidak pernah menyelewengkan aset rakyat dan negara yang diamanahkan padanya. Distribusi bantuan negara sangat cepat, yang ditunjang oleh kontrol dan administrasi negara yang rapi.

Namun, bila setiap ada kritik, tudingan dan nasihat, Umar selalu mendahulukan kekuasaan dan kekuatan, sekalipun dia benar, maka takkan muncul ridla rakyat. Mereka jadi takut menyampaikan kebenaran, sehingga bisa saja timbul kekeliruan pemimpin karena mereka bukan nabi dan rasul. Padahal, ridla Allah turun bila ada ridla rakyat.

Tentu saja bila kritik dan nasihat itu benar, terlepas dari cara dan tutur kata penyampaian, Umar akan lebih melapangkan dadanya dan langsung menerima tanpa merasa dipermalukan. Misalnya, beliau pernah mencoba membatasi jumlah mahar perempuan sebesar 400 dirham, yang langsung diprotes kaum Muslimah. Umar seketika membatalkan keputusannya.

Umar tidak pernah merasa nasihat orang akan merendahkan derajatnya. Ketakwaan yang menentukannya, bukan harta, kekuasaan, atau kekuatan. Jika kritik itu benar, maka selamatlah yang dikritik dari dosa dan neraka, bila diterimanya dengan baik. Bila kritik itu salah, maka selamat pula yang dikritik karena dosanya berkurang, bertambah pahalanya, juga ridla rakyat dan wibawanya jika dia seorang pemimpin.

Firman Allah, ”Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah [kejahatan itu] dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, juga tidak dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang memiliki keuntungan yang besar.” (QS Fushshilat 41:34-35).

Oleh : Fahmi AP Pane

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: