RSS

Surat Terbuka untuk Bapak Presiden

29 Jan

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb…

Saya berharap Bapak Presiden dalam keadaan sehat wal ‘afiat dan senantiasa dalam lindungan Allah swt. Saya berharap Indonesia ke depan, dalam masa kepemimpinan Bapak bisa lebih baik. Bapak Presiden yang saya cintai! Saya juga, seperti teman-teman yang lain: sudah menghitung lajunya kepemimpinan Bapak. Belum lama, masih seratus hari lebih sedikit. Tentunya negara kita belum banyak perubahan. Dan itu adalah manusiawi, Pak. Rasulullah saw saja, membangun akidah sepuluh tahun lamanya. Saat itu beliau berada di Mekkah. Kemudian beliau membangun ‘Masyarakat Madani’ dalam jangka waktu tiga belas tahun di Madinah Al-Munawwarah.

Bapak Presiden! Saya adalah anak Bapak yang sedang merantau, Nun jauh di sana, di negeri orang. Bapak juga pernah datang ke negeri itu, ketika melayat jenazah Presiden Palestina: Yasir Arafat. Negeri itu namanya Mesir, tanah para nabi dan utusan Allah. Tentu saja Fira’un juga pernah berkuasa di sana.

Alhamdulillah anak-anak Bapak di sini baik-baik dan sehat-sehat. Kami baru saja menyelesaikan ujian semester ganjil. Semoga Bapak mendoakan kami agar sukses. Kami juga berdoa demi kebaikan negara Indonesia tercinta dan Bapak sekeluarga.

Bapak Presiden yang saya kagumi! Layaknya orang yang jauh merantau, tentunya tidak dapat banyak mengikuti situasi ‘kampung halaman’ nan jauh di mato. Saya bisa membaca lewat media kita yang ada di internet. Tentang Aceh, tentang Ambon, tentang Poso, tentang hamilisasi, tentang korupsi, tentang manipulasi, tentang birokrasi, tentang tikus berdasi, musang berbulu domba, bantuan dana terselubung, madrasah Alkitab (Kristenisas), demonstrasi, reformasi bahkan ‘repot nasi’. Kami juga merasakan sesaknya dada Bapak, karena terlalu sering melihat ‘pusar wanita’ di televisi. Kami juga sesak mendengar dan membaca berita itu.

Saya tentunya percaya Bapak Presiden bukan Umar bin Abdul Aziz, namun saya yakin: haqqul yaqin, bahwa Bapak bukan Namruz musuh Ibrahim. Saya bukanlah sosok pemberani Pak, namun saya juga tidak terlalu pengecut. Tentunya Bapak Presiden masih punya waktu panjang: 4 tahun 9 bulan lagi. Waktu yang cukup panjang untuk bisa mencontoh Umar bin Khattab. Saya selaku anak Bapak, akan mengoreksi Bapak lewat pedang, pedang pena yang selalu terhunus. Tentunya Bapak ingat cerita itu! Ketika Umar memakai baju Abdullah. Rakyat protes, karena waktu pembagian pakaian, Umar tidak mendapat apa-apa. Bapak memakai baju saya kan! Begitu Abdullah menjelaskan kepada rakyat yang demonstrasi itu.

Saya tidak berharap Bapak mengangkat gandum untuk ibu tua yang merintih, karena dapurnya tidak ngebul. Tapi perlu Bapak pikirkan juga bahwa negara kita tidak lagi negara swasembada pangan. Indonesa bukan negara industri Pak! Tapi, mall-mall dan supermarket juga tidak harus diruntuhkan. Petani, nelayan: adalah dua kelompok orang yang harus Bapak ayomi. Karena saya tidak percaya ada orang Indonesia (secara umum) satu harian tidak makan nasi. Tapi haruskah kita terus-menerus memasok beras dari luar. Ke mana “tanah kita tanah sorga itu, Pak”? sekarang tongkat, kayu dan batu jadi bangunan, bukan tanaman. Lagu Enno Lerian: “Indonesiaku”, perlu diputar lagi: supaya kita sadar, kita bukan Inggris, bukan Prancis. Kita bisa mengimpor karya Thomas Alva Edison, Isaac Newton dan James Watt kok, tanpa harus mengubah sawah-sawah petani jadi Gedung Pencakar Langit. Karena suara katak, tikus dan ular akan hilang dari sana. Indonesia akan sunyi, Pak!

Bapak Presiden yang saya cintai! Bapak jangan pusing membaca surat saya. Saya tahu isinya acak-acakan, karena pikiran saya juga sedang acak-acakan ketika menulis surat ini. Bapak Presiden! Saya hanya minta beberapa poin sebagai penutup:

Pertama, saya risih juga mendengar berita tentang ‘pusar’ di TV Pak! Bisa gak Pak dibasmi secepat mungkin? Ah… sulit Pak ya! Apakah pemiliki stasiun TV itu bandel Pak? Atau kita memang tidak mau menghapuskan acara itu Pak? Atau rakyat Indonesia ‘sangat mencintai’ acara itu? Saya risih Pak mendengar isu Inul si Ratu Ngebor itu.

Kedua, saya tidak kaget melihat Bapak Hidayat Nur Wahid menolak volvo, karena itu anjuran agama: tidak boleh boros Pak, mubazir. Tapi saya kaget kalau ada orang yang mengatakan: tindakan itu mengandung muatan politis. Bapak Presiden! Bisa gak para pejabat kita disuruh mencontoh Bapak Hidayat Nur Wahid itu?

Ketiga, stasiun TV kita makin banyak Pak! Juga makin bebas dan liar. Bapak bisa mengekang acara TV yang mengeksploitasi para remaja? Acaranya hanya akan membius para pemuda kita Pak, Islam.

Kasihan para remaja dipaksa untuk memberikan ‘Untukmu’, disuruh berfilsafat dengan ‘AADC’, belum lagi ibu-ibu asyik dengan ‘ARISAN’. Ada lagi yang capek-capek ’30 HARI MENCARI CINTA’, ada juga cinta punya karat ‘CINTA 24 KARAT’. Lagi Pak! Ada remaja kita yang disuruh berteriak: BURUAN CIUM GUE. Mereka tidak tahu Pak bahwa: KIAMAT SUDAH DEKAT. Saya sendiri rindu kepada pahlawan: PITUNG dan JAKA SEMBUNG. Masih banyak tentunya: PAK SAKERAH di negara kita.

Keempat, Pak! Jangan sering-sering mengundang ulama ke Istana Negara. Jangan Pak ya! Kasihan mereka: capek dan tugasnya berat mengurus ummat ini. Mendingan Bapak yang datang ke sana: ke Gontor, ke Daarut Tahuiid, ke Jombang. Karena Harun ar-Rasyid sering berkunjung ke rumah para ulama: ia sampai menangis Pak di hadapan ulama.

Kelima, jangan lupa: katakan kepada para pejabat kita untuk shalat Tahajjud. Saya tahu Bapak suka shalat ini. Saya baca beritanya di Pikiran Rakyat. Semoga ini benar dan bisa dilaksanakan oleh bawahan Bapak.

Keenam, bapak jangan jalan kaki ke daerah, apalagi ke Aceh. Karena itu akan menghambat langkah Bapak untuk menyelesaikan kebutuhan rakyat. Pakai helikopter Pak biar cepat ya!

Ketujuh, Pak! Di negara kita banyak orang pintar, tapi tidak punya duit. Tolong Bapak carikan untuk mereka para dermawan, agar mereka bisa sekolah yang tinggi. Atau negara mengadakan beasiswa untuk mereka. Kami juga di sini masih banyak yang butuh beasiswa.

Bapak Presiden yang sangat saya cintai! Saya akan menyudahi surat saya ini, dengan harapan Bapak bisa membaca dan mendengar suara hati saya.

Allaahummj ‘al baldatanaa baldatan thayyibatan, aaminatan muthma’innatan. Warzuqnaa min al-tsamaraati la’allana nasykur.

Demikian dahulu Pak! Insya Allah saya akan berkirim surat lagi kepada Bapak. Atas segala kearifan dan kebijaksanaan Bapak saya haturkan terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Kairo, 8 Februari 2005

Hormat Saya,
Ananda
Qosim Nursheha Dzulhadi
(Yang Mencintai Bapak Presiden)

eramuslim

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Januari 2010 in About Islam, Kumpulan Artikel

 

2 responses to “Surat Terbuka untuk Bapak Presiden

  1. nurrahman18

    29 Januari 2010 at 6:18 am

    hehe, susunan dan rangkaian kata2nya bagus om

     
  2. ardhiansyah

    29 Januari 2010 at 7:21 am

    Tq bro..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: