RSS

Saat Terakhir..

17 Feb

Dalam kitab Zubdatul Wa’idhin dijumpai keterangan bahwa suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Muhammad saw dan menyampaikan firman Allah, ”Barang siapa yang bertobat kira-kira setahun sebelum meninggal dunia, maka diterimalah tobatnya itu.” Kemudian Rasul berkata, ”Wahai Jibril, setahun bagi umatku itu tidaklah sebentar. Dalam waktu yang lama itu, mungkin mereka lalai, berpanjang angan-angan. Apa mungkin mereka terpelihara dari dosa?”

Malaikat Jibril meninggalkan Nabi Muhammad saw. Sebentar kemudian ia kembali lagi. ”Ya Muhammad, Tuhan telah berfirman kepadamu, ‘Barang siapa yang sebulan sebelum kematian mau bertobat, maka tobatnya akan diterima’,” kata Jibril.

”Wahai Jibril, waktu sebulan itu bagi umatku juga terlalu lama,” kata Nabi saw. Jibril pergi lagi dan tidak lama kemudian kembali. ”Ya Muhammad, Tuhan berfirman kepadamu, ‘Barang siapa bertobat kira-kira satu jam sebelum meninggal, maka tobatnya akan diterima’.”

”Satu jam masih terlalu lama bagi umatku,” jawab Nabi saw. Jibril pergi dan tidak lama kemudian sudah kembali lagi. ”Wahai Muhammad, Allah menyampaikan salam kepadamu. Lalu berfirman, ‘Barang siapa sepanjang hidupnya bergelut dengan kemaksiatan, dan belum kembali kepada-Ku sebelum meninggal dunia, kira-kira setahun atau sebulan, sehari atau satu jam, sampai rohnya ditenggorokan, ia tidak dapat berkata atau mengajukan alasan dan menyesal dalam hatinya, maka akan Kuampuni dia’.”

Itulah rahmat Allah. Itulah kebijaksanaan Nya. Jika seseorang mau sungguh-sungguh bertobat, Dia akan mengampuninya. Namun, janganlah kita lalu menganggap enteng pertobatan itu sehingga kita menunda-nunda terus. Kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Boleh kita rencanakan bertobat pada hari lusa, namun bagaimana jika Malaikat Izrail datang esok pagi.

Allah maha bijaksana, namun demikian janganlah memandang mudah masalah tobat ini. Manusia adalah tempat salah dan dosa. Jika tobat ditunda-tunda terus, kekotoran hati akan bertambah. Akhirnya, kita jauh dari hidayah. Kalau jauh dari hidayah, seseorang semakin malas untuk bertobat.

Oleh karena itu, rasa takut terhadap dosa harus ditanamkan dalam hati. Kesadaran bahwa dosa itu berdampak buruk pada jiwa harus benar-benar direnungkan. Apabila perasaan itu sudah mengakar dalam hati, kita akan terdorong untuk melakukan tobat dan pasti tidak akan menundanya. Waallahu a’lam. (Al Imam)

(Republika)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Februari 2010 in About Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: