RSS

Allah telah tetapkan Thaluth dan Daud penakluk Goliath

05 Mei

Pedoman dan Panduan Al Qur-an

Berdasarkan petunjuk firman dalam Al Qur-an :

A. Surah Al Baqarah 248, bahwa di dalamnya terkandung makna antara lain:

  • Bahwa Allah telah mengisyaratkan tanda kemenangan adalah “sebuah Tabut”, yaitu peti peninggalan “Keluarga Musa dan Keluarga Harun” ‘alaihimas salam yang di dalamnya berisi “dua wasiat utama dari Allah”.
  • Maka yang dimaksud dengan “a-lu Mu-sa Wa a-lu Ha-run” berdasarkan firman Al Qur-an surah Al Anfal 73 adalah dengan makna khusus yaitu “peristiwa tansiq”. Kemudian yang dimaksud dengan “baqiyyatun minma-taroka” berdasarkan firman Al Qur-an surah Hud 116 dengan sebutan “Ulu-Baqiyyah” yang menepati dua syarat yaitu:
    • Terhimpun dalam golongan “orang-orang yang mau berjihad” mengawal Islam.
    • Teguh pendirian dalam menepati petunjuk Rasul yang dinamakan “Al Jama’ah”. Hal tersebut telah dipandukan Allah melalui firmanNya yaitu Surah Muhammad 31 dan Surah At Taubah 44. Kemudian diterangkan Rasulullah dalam Hadits Masyhur.-

B. Surah Al Baqarah 252 bahwa Allah beritakan kepada Muhammad tentang “Ayat-ayat Allah” adalah bukti kemenangan yang diberikan Allah atas Muslimin yang dipimpin oleh Thalut, dan Daud berhasil membunuh Jalut (Goliath).   

Analisa

Apabila mengamati terhadap pedoman dan panduan al Qur-an sebagaimana yang tersebut, maka dapat difahami bahwa pada dasarnya dalam menepati Sunnah Rasulullah yang disebut “Al Jama’ah” wajib melalui proses Tansiq [bukan aliansi], karena antar Mukmin adalah bersaudara, maka berarti hubungan hati, bukan hubungan fikiran. Dengan itu maka sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah “bagai benteng yang saling menguatkan”. Dari sanalah membentuk apa yang dikatakan sebagai “Ulu Baqiyah” yang dalam pengawalannya terhadap Ad-Din Al Islam maka Allah memberikan nama spesifik yaitu “Mujahidin” [qa31s47=muhammad].-

Adapun keteguhan jiwanya dalam menepati makna Mujahidin adalah dalam hal pendiriannya menghadapi cobaan duniawiyah, bahwa mereka tidak berambisi melainkan hanya menginginkan sebagai pengawal Ad-Dinul Al Islam yang berjalan menuju Penegakan Hukum Allah yang secara muthlaq berkuasa atas ummat manusia. Di samping itu mereka mendasari akhlaqnya dengan cinta kasih terhadap seluruh ummat tanpa ada diskriminasi dan atau disintegrasi. Maka dengan yang tersebut akan memperoleh kekuatan lahiriyah dan bathiniyah dari Allah SWT.-

Dalam kehidupan masyarakat dunia sekarang ini, pengaruh peradaban dan falsafah Barat sangat mendominasi sebagian besar masyarakat dunia. Dan dalam kenyataannya telah

ditumbuh suburkan oleh sebagian besar ummat Islam sendiri melalui toleransi tanpa batas. Dunia Barat dalam metode operasionalnya menggunakan sistem Politik, dan hal tersebut berakar dari Sejarah Eropa / Sejarah Yunani kuna, sebagai buah karya Plato murid Socrates. Padahal Plato dengan segala idenya telah dianggap sebagai bimbingan hidup oleh Barat, maka serangan terhadap basis kultur dan filsafat Barat berarti harus berhadapan dengan kekuatan Barat. Dengan demikian dunia Barat mempunyai rasa kebencian dan dendam kesumat terhadap negara-negara Muslim dan Islam. Ini telah terbukti !

Dan dapat dirasakan bahwa “Revivalisme Barat” telah memetik buahnya, kenyataan mereka sangat optimis dengan bayangan “Triumphalisme Imperial” -nya atau dalam kata lain disebut “Parade Kemenangan”, karena Barat di dalam mencapai tujuan mereka akan menghalalkan segala cara, yaitu dalam bentuk berbagai perang ke negara-negara Timur Tengah, mereka menggunakan pembom Stealth, missile Cruise, bom Pintar yang dikendalikan Laser, missile Patriot, TIALD dan MLRS yang semuanya didukung teknologi satelit muttakhir. Untuk pengerahan berbagai senjata itu mereka tidak kekurangan alasan, seperti tuduhan terorisme, juga pada kasus lain menggunakan istilah program nuclear dan sebagainya. Inilah gambaran bukti dari makna Revivalisme Barat. Maka berbagai kebrutalan yang telah dilakukan Barat terhadap negara-negara Muslim berarti “Sejarah Goliath berulang kembali di zaman muttakhir”. Sudah barang tentu menurut petunjuk Al Qur-an yang akan sanggup mengalahkan mereka itu adalah Thalut dan Daud.-

Thalut dan Daud zaman muttakhir adalah berhubungan dengan masalah “Strategi dan Sistem” yang telah dituangkan melalui firmanNya yaitu Al Qur-an dan Sunnah RasulNya. Oleh karena itu lafadz pada ayat 31 surah Muhammad disebut dengan istilah “Shabar” yang harus difaham secara benar berdasarkan kaidah Ilmu Tafsir.-

Pembahasan Dalil

Bahwa sesungguhnya nama Goliath adalah penggunaan logat Barat, akan tetapi dalam Al Qur-an diistilahkan Jalut. Sedangkan istilah Devid [David] adalah Daud. Dan peranan yang ditetapkan dalam Al Qur-an adalah Thalut yang ditetapkan Allah pembawa Tabut untuk mengentaskan Bani Israil yang sedang dalam penindasan dan terusir secara tragis oleh Raja dhalim bernama Goliath [Jalut]. Maka Thalut memberikan persyaratan untuk tetap teguh:

1. Di bawah pimpinannya dan tetap dalam Al Jama’ah serta tidak terkecoh oleh godaan duniawi, seperti difirmankan dalam Al Qur-an [qa28s18=al kahfi]:

“Dan shabarlah dirimu beserta orang-orang yang menyeru Robb mereka di waktu pagi dan petang mereka menginginkan WajahNya, dan janganlah kamu berpaling [ pandangan ] kedua matamu dari mereka [hanya karena] kamu menginginkan perhiasan kehidupan yang rendah ini, dan janganlah kamu mentha’ati orang yang Kami alpakan hatinya dari mengingati Kami dan mengikuti hawa nafsu-nya dan adalah urusannya melanggar batas”.-

Shabar dalam ayat tersebut didalamnya antara lain terkandung pengertian “istiqomah” [lurus] yang tidak akan pernah tergoyahkan oleh masalah duniawiyah dan mempersiapkan diri untuk tidak akan mudah terpengaruh oleh berbagai rayuan yang akan merusakkan pendiriannya.-

2. Yaqin terhadap pertolongan Allah dan KuasaNya walau di luar jangkauan fikiran manusia, seperti difirmankan dalam al Qur-an [qa249s2=al baqarah]:

“Berkata orang-orang yang berprasangka bahwa mereka akan bertemu Allah: “Berapa banyak

dari golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan idzin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang shabar”.-

Hal tersebut memberikan bukti bahwa yang akan mengangkat Ad-Din Al Islam menjadi berlaku muthlaq sebagai Hukum atas ummat manusia, tiada lain adalah hanya Allah. Dengan demikian maka lafadz ayat tersebut sebagai “penguji” keteguhan hati hambaNya dalam menghadapi kenyataan. Karena Kehendak Allah pasti berlaku dan tidak akan pernah dapat diukur oleh kemampuan daya fikir manusia, melainkan bagi yang mendapat hidayah Kebenaran dari Allah, akan senantiasa menundukkan fikiran, perasaan dan kemauannya kepada ayat-ayatNya.-

Inilah makna petunjuk Allah tentang KebenaranNya, dengan jelas dan tegas tidak akan pernah bisa diterima oleh orang-orang masih ragu atau masih menghargakan dirinya dihadapan Syar’i atau orang yang sama sekali hanya mendasarkan kekuatan rasio belaka tanpa hidayah; Yang jelas bahwa betapapun usaha kafirin melalui berbagai cara dan kekuatan mereka, maka Sunnatullah yang akan berbicara terhadap mereka, bahwa Thalut dan Daud merupakan gambaran “Lembaga Tansiq” pembawa amanah Allah dan RasulNya menuju kejayaan Islam.

Ditulis oleh Ust Muh Bardan Kindarto. (Sabtu, 21 Mei 2005)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Mei 2010 in About Islam, Kumpulan Artikel

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: