RSS

Si Otong dan Pemimpin Non-muslim

14 Agu

Salah satu pendapat mengenai Pemimpin Non-Muslim. Silahkan kemukakan pendapatnya agar dapat memberikan informasi yg sebenarnya mengenai fenomena ini, terlebih bila ini terjadi pada lembaga atau entitas ekonomi yang mengusung platfon syariah pada bisnisyang dijalankannya. Dalam penafsiran saya yang awam, pemimpin dalam segala aspek kehidupan terlebih dalam lembaga yang mengusung jargon / platfon syariah. Maka akan menjadi hal yang janggal atau tabu bila dipimpin oleh Pemimpin yang bukan Muslim karena dikhawatirkan akan menyimpan pretensi negatif pada kehidupan lembaga ataupun kemaslahatan dan keberkahan rizki yang diperoleh.

Berikut cerita yang dikutib dari AgungSugiri’s Site.

Sekitar hampir dua tahun yang lalu, si Otong menjalankan tugas luar dari kantornya di suatu kota di luar Jawa selama tiga bulan. Karena dinas ini cukup lama, maka dia mengajak pula istrinya. Pada suatu kesempatan ngobrol santai di tempat kostnya di kota itu, istrinya bertanya, “Eh, pak Gubernur propinsi ini katanya mau diturunkan?”. Otong menjawab, “Iya, dia lagi kena penyidikan KPK, kalo terbukti bersalah ya harus lengser”.

“Terus kalo itu kejadian beneran, yang gantiin siapa?” “Ya Wakil Gubernur dong, sesuai UU”. “Wah, gawat dong, wagubnya kan non-muslim”. “Gawat kenapa?”

“Penduduk propinsi ini kan mayoritas muslimin, padahal menurut Al Quran muslimin nggak boleh dipimpin oleh non-muslim”, kata istrinya Otong.

Yang terlintas di benak Otong pertama kali adalah: bener juga ya (lihat misalnya Al Maaidah: 57, yang melarang kita menjadikan ahlulkitab dan orang2 kafir sebagai wali/penolong/pemimpin). Tapi, setelah kasus ini dia telaah lebih lanjut, dia menemukan sesuatu yg lain.

Begini. Yang dimaksud dengan pemimpin di Al Quran itu sehingga kita dilarang berpemimpinkan non-muslim, apakah para pemimpin politik itu (Gubernur, Walikota, dll.)? Telaahan Otong mengatakan “sepertinya bukan deh”. Kita kan tahu bahwa tujuan hidup ini adalah beribadah di dunia agar selamat di akhirat nanti. Untuk ini,   Allah telah memberikan bagi kita para Khalifah-Nya, pemimpin2/wali2, baik mereka adalah Nabi/Rasul AhS ataupun bukan, untuk diikuti dan ditaati sebagai perwujudan ketaatan kita kepada Allah. Nah, pemimpin yang dimaksud Al Quran adalah dalam pengertian yang berkaitan dengan keselamatan ukhrawi itu. Artinya, jika kita mau melakukan suatu perbuatan, dan kita takut jika salah langkah akan berakibat sengsara di akhirat, maka Sang Pemimpin itulah tempat kita bertanya mencari petunjuk.

Misalnya, ada seorang muslim ingin minum bir berkadar alkohol rendah (katakanlah, di bawah 1%). Jika bir seperti itu ternyata hakikatnya adalah khamr yang haram itu, maka jelas orang itu akan berdosa dengan meminumnya dan akan berkonsekuensi buruk di akhirat. Nah, dalam ketidaktahuan atau keraguan seperti inilah, orang itu perlu bertanya kepada Sang Pemimpin itu, bukan kepada Gubernur.

Contoh lain, misal ada seorang muslim di kota ini yang nafsu syahwatnya tinggi tapi istrinya cemburuannya minta ampun dan lingkungannya nggak mendukung poligami. Kalau dia bertanya kepada Gubernur atau Walikota, kira-kira begini, “gimana pak kalau saya jadi langganan lokalisasi P di kota ini, boleh nggak pak?”. Apa kira-kira jawaban para pemimpin politik itu? Sebagai pemimpin politik, tentu jawabannya akan didasarkan pada peraturan yang berlaku, entah itu Perda atau SK Kepala Daerah. Nah, berdasarkan ini, jelas bahwa menjadi pelanggan suatu lokalisasi adalah sah-sah saja alias mubah-mubah saja kan? Nah, kalau orang itu mengikuti ini, jelas konsekuensi ukhrawinya sangat buruk baginya.

Demikian pemikiran Otong.

Setelah menjelaskan ini kepada istrinya, si Otong bertanya, “apakah peraturan Gubernur atau Walikota yang harus ditaati dalam masalah di atas, ataukah peraturan agama?” Istrinya menjawab tegas, “ya jelas dong, kalau masalah halal haram, ulama pasti lebih tahu”.

That’s it. Karena itu, kita nggak usah kuatir punya Gubernur non-muslim.

Otong pun kemudian melanjutkan penjelajahan perenungannya.

Pada setiap tindakan kita yang berhubungan dengan konsekuensi ukhrawi, kepada Pemimpin kitalah seyogyanya kita bertanya minta petunjuk. Nah, dalam hal-hal seperti ini Gubernur bukan pemimpin kita. Bahkan, dengan memahami pengertian hakiki pemimpin seperti yang dimaksud Al Quran ini, kiranya tidak ada masalah jika pun Presiden RI adalah non-muslim. Benar, Presiden, Gubernur, Walikota dll. itu adalah pejabat-pejabat Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pemimpin-pemimpin dalam pengertian bahasa sehari-hari, tapi BUKAN pemimpin dalam pengertian syar’i seperti yang dimaksud oleh Al Quran itu.

Ayat An-Nisa: 59 mempertegas pengertian pemimpin yang seperti ini. “Yaa ayyuhalladzina aamanu athii’ullaha wa athii’uur rasuula wa uulil Amri minkum…”

Ayat ini mengemukakan prinsip Tauhid bahwa ketaatan itu HANYA kepada Allah saja. Dalam prakteknya sehari-hari, ketaatan kepada Allah ini, tentu saja, HARUS diwujudkan melalui ketaatan kepada Mahluk2 Pilihan-Nya, yaitu para Ultimate Khalifah-Nya, yang di jaman akhir ini adalah Rasul SAW dan Ulil Amri di antara kita. Mereka (Rasul SAW dan Ulil Amri)-lah para pemimpin kita, yang bilamana kita memerlukan petunjuk untuk melangkah (agar nggak salah langkah sehingga berakibat sengsara di akhirat) maka kita bertanya kepada mereka dan kemudian mentaati petunjuk mereka.

Si Otong sampai kepada pemahaman bahwa Ulil Amri tidak harus sukses menjadi pemimpin politik, dan sebaliknya, pemimpin politik BELUM TENTU adalah orang-orang yang Allah tetapkan sebagai Ulil Amri kita.

Ini seperti halnya Rasul SAW. Kalaupun toh misalnya beliau SAW tidak berhasil menjadi pemimpin politik Negara Madinah waktu itu, TETAP saja beliau adalah Rasul terakhir dan Pemimpin yang wajib ditaati oleh kaum muslimin. Kita kan semua tahu Rasul SAW pernah menolak ketika ditawari menjadi RAJA (Pemimpin Politik) Arab oleh para kafirun Quraisy (karena mereka mensyaratkan kompromi antara gaya hidup jahiliah dg misi kenabian beliau). Hal ini karena tujuan Muhammad SAW adalah menyelesaikan misi nubuwahnya, BUKAN untuk menjadi pemimpin politik kalau itu mengharuskannya kompromi dengan tujuan nubuwah. Misi nubuwah nggak boleh dikompromikan dengan apapun.

Anyway, si Otong juga sadar, sebagian muslimin beranggapan bahwa ulil amri itu adalah para pemimpin politik kita. Maka, kiranya si Otong perlu melanjutkan penjelajahannya atas ayat An-Nisa: 59 ini. Lain waktu, insya Allah.

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: